Catatan Reyvanologi 2013 : Zaskia Gotik

Assalamualaikum Wr.Wb

Pembaca yang budiman, Kita menuju ke catatan ke 11 yaitu Zaskia Gotik dan Vicky Prasetyo. Siapa yang tidak tahu dia, mereka berdua pada tahun 2013 menjadi buah bibir masyarakat karena menciptakan kata-kata baru yang benar-benar asing di telinga orang. Munculnya “siasi” mencengangkan Indonesia. Mau tahu ulasan tentang mereka berdua yang melejit di dunia infotainment tahun ini. So, cekidot eaaa…

Zaskia Gotik sudah bertunangan dengan seorang pria bernama Hendriyanto alias Vicky Prasetyo. Menurut Kepala Desa Karang Asih Asep Mulyana, Vicky lahir di Bekasi pada 7 Januari 1983. Hendriyanto merupakan putra pertama dari empat bersaudara pasangan Hermanto (48) dan Nelly (45). Dalam hitungan jam, nama Vicky seolah lebih tenar ketimbang Zaskia Gotik. Pria ini ada diheadline sejumlah media online lantaran dirinya diduga menipu banyak orang. Ini 4 fakta calon suami Zaskia Gotik:

1. Mengaku Suami Ifa ‘Trio Macan’
Vicky pernah mencalonkan diri sebagai kades di Desa Karang Asih, Cikarang, Jawa Barat. Ia duduga sempat memiliki kedekatan dengan Ifa, personel Trio Macan. Di masa kampanye, pria berusia 29 tahun itu kerap membawa Ifa ke atas panggung. Bahkan, warga sempat yakin kalau Hendriyanto akan menikah dengan Ifa, lantaran di beberapa kesempatan mereka mengaku sebagai calon suami istri.

“Kalau lagi nyanyi di panggung mereka kelihatan mesra. Malah, istrinya suka disuruh pergi dulu ke mall biar nggak ketahuan,” kata warga yang enggan menyebutkan namanya.

2. Menipu Warga Desa
Kabar Vicky adalah seorang penipu disampaikan sumber dari warga Desa Karang Asih. Ia mengatakan Vicky bukanlah pengusaha seperti yang ramai diberitakan tayangan infotainment. Saat Vicky mencalonkan diri menjadi kades setempat, ia menjanjikan sejumlah uang jika warga mau mencoblos namanya dalam pemilihan lurah.

“Waktu jadi calon itu namanya Hendrik, saya lupa nama panjangnya. Saat jadi calon dia ngomong, siapa yang mau nyoblos dia, bakal dikasih duit Rp 50 ribu. Tapi karena dia kalah, dia langsung kabur ke Singapura katanya. Yang kasihan itu tim suksesnya, dikejar-kejar sama warga di sini. Warga minta duit yang sudah dijanjikan,” katanya.

Nih, contoh bicara Vicky Prasetyo. Simak!

DI usiaku saat ini… ya TWENTY NINE MY AGE, aku masih merindukan APRESIASI karena basically aku suka musik walaupun KONTROVERSI HATIk-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih, kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan. Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT. Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik; aku sangat bangga.’

Kutipan di muka adalah pernyataan seseorang yang mengaku eksekutif sukses, namun sesungguhnya adalah penipu ulung. Sejumlah artis dangdut, termasuk staf anggota DPR Ade Nurul, menjadi sebagian dari korban-korbannya. Korban terakhir, sebelum Vicky Prasetyo dibekuk oleh aparat kepolisian, adalah Zaskia Gotik yang sempat bertunangan dengan pelaku. Saat konferensi pers setelah bertunangan, kata-kata di muka lah yang diucapkan Vicky sebagaimana yang diunggah dalam klip youtube.1

Kegelian sontak tumbuh di kalangan pengguna media sosial, saat saya mengunggah transkrip teks tersebut di akun facebook. Ada yang mengatakan bahwa si Vicky ini kepalanya terbentur aspal sebelum berkata-kata. Ada juga yang menyamakannya dengan pelawak macam Toni Blank yang sempat populer beberapa tahun lalu. Banyak lagi cibiran, ejekan, atau apapun bagi si Vicky. Lebih-lebih diketahui kemudian bahwa si Vicky ini juga penipu ulung, yang pandai memainkan psikologi korban-korban perempuannya dengan berbagai macam identitas. Ia bisa mengaku sebagai dokter ahli bedah plastik, yang mengaku melakukan 30 operasi dalam sehari. Pun sebagai manajer keuangan ia perankan melalui identitas yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Sehingga ia bisa menampilkan diri sebagai dua atau tiga subyek yang berbeda, di hadapan korbannya. Semua modus penipuannya, dilakukan melalui beberapa perangkat ‘telepon pintar’ Blackberry yang dimilikinya, demi ‘memeras’ uang korban-korbannya. Seperti misalnya yang dikemukakan oleh Deasy Kitaro, salah satu korbannya:2

‘Ngakunya anggota DPR, pengusaha dan anak pejabat, itu semua bohong. Aku juga pernah ditelepon yang mengaku seorang dokter bedah bernama dokter Meda. Dokter Meda telepon aku, dia bilang sangat mendukung aku nikah sama Vicky. Tapi ternyata, dokter Meda itu Vicky sendiri.’

Lebih jauh lagi laporan dari sebuah media mengungkap sedikit keterangan dari Lurah Desa Karang Asih, Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat yang merupakan tempat Vicky tinggal saat ini. Dari penuturan Lurah tersebut, diketahui jika nama asli Vicky adalah Hendriyanto bin Hermanto.3 Pun Vicky ternyata sudah menjadi buronan sejak Januari 2013 terkait penipuan surat tanah, dan juga pernah kabur ke Singapura karena kalah dalam pemilihan kepala desa di Bekasi.4

Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan apa yang dia lakukan sampai menjadi buron selama berbulan-bulan, dan dibekuk kemudian oleh pihak Kepolisian dengan tuduhan pemalsuan sertifikat tanah. Tetapi bahasa ‘ngawur’ yang dipergunakan olehnya membuat saya terus bertanya-tanya.

Sekarang mari kita coba interpretasi bebas kalimat-kalimatnya:

  • • aku masih merindukan APRESIASI karena basically aku suka musik = [aku masih ingin dipuja-puja (sebagai artis?) karena pada dasarnya aku suka musik] atau mungkin [aku ingin tampil terbuka] –ini mengingat pernyataan ini dibuat seusai pertunangan yang dilakukan secara tertutup, tidak mengundang awak media.
  • • walaupun KONTROVERSI HATIk-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih = [walaupun kegalauan hati ku lebih mengarah pada upaya mencipta kesejahteraan (kebahagiaan?) secara terselubung demi kita berdua]
  • • kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan = [kita belajar mengharmoniskan segala sesuatu, nggak boleh menang sendiri, dan menghilangkan keinginan bersama]
  • • Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT = [ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti atau membuat status kehormatan keluarga dia lebih buruk, tetapi justru untuk membuat lebih percaya diri]
  • • Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik & aku sangat bangga = [Kita harus bisa mengambil peluang dari situasi yang menekan (?) agar kondisi ekonomi kita yang labil menjadi lebih baik dan aku sangat bangga]

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan bahasa Indonesia yang digunakannya. Kalimat-kalimatnya relatif terstruktur dengan baik, dalam makna struktur Subyek, Predikat dan Obyek. Dalam arti, bahasa yang dipergunakannya, tepat menempatkan subyek, tepat menempatkan predikat, tepat menempatkan obyeknya. Sehingga ketika saya mencoba menafsirkannya secara bebas, relatif tidak terlalu sulit kecuali penggunaan istilah-istilahnya yang ‘awur-awuran’ atau ngawur. Sebuah penafsiran lain coba dikemukakan oleh seorang blogger.5

1. Di usiaku saat ini ya twenty nine my age.

seharusnya: Usiaku saat ini 29.

2. Tapi aku tetap masih merindukan apresiasi, karena basicly aku seneng musik. Walaupun kontroversi hati aku lebih ditujukan kepada konspirasi kemakmuran dari yang kita pilih.

Yang ini bener-bener bikin kita garuk-garuk tapak kaki. Apa artinya ya? Apresiasi adalah penghargaan terhadap sesuatu, kontroversi adalah pertentangan, dan konspirasi adalah suatu rencana tersembunyi dibalik sesuatu. (definisi ini nggak lihat KBBI. Jadi mohon maaf kalau saya salah mengartikannya). Tapi, mari kita coba sederhanakan kata-katanya.

Mungkin begini ‘Aku menyukai karyanya (Zaskia) karena pada dasarnya aku senang musik. Tapi aku juga punya prioritas, yaitu karier’

Beugh! Jauh amat! Habis, untuk mengetahui apa arti sebenarnya, sesungguhnya kita harus tahu apa sih yang ditanyakan pada orang ini:

3. Kita belajar .. apa ya? harmonisisasi dari hal yang terkecil sampai terbesar

Mungkin dia ditanyai hal ihwal hubungan mereka. Tapi kesalahan Vicky adalah menyebut harmonisasi menjadi harmonisisasi. Mungkin kalimat lebih sederhana yang bisa ia moncongkan adalah, ‘kita belajar untuk sama-sama mengerti satu sama lain, dari yang terkecil sampai yang terbesar(?)’

4. Kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta dari apa yang kita miliki.

Inilah ‘scene’ paling bikin kita ngakak. Ketika dia menyeret kata ‘kudeta’. Sebagaimana kita tahu, kudeta berarti perebutan kekuasaan secara paksa. Biasanya dipakai dalam ‘bahasa; politik dan ketnegaraan. Jadi apa sih maksudnya Bung Vicky ini? Mungkin akan lebih dimengerti jika dia berkata ‘Kita nggak boleh saling egois dan terlalu mempertahankan apa yang kita miliki (kekayaan) (?)’

5. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut dan mempersuram stasusisasi kemakmuran keluarga dia. Tapi menjadi confident.

Statusisasi? Wah, nggak semua kata bisa direkatkan dengan -isasi, lho. Lalu gimana kata sederhananya? Ah, pikir aja dalam hati:

6. Kita harus menyiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita akan lebih baik dan aku sangat bangga.

Labil ekonomi? Mungkin maksudnya agar kehidupan perekonomian yang bersangkutan bisa seimbang. Di video lain, Vicky bahkan menyebut kata enginering yang disangkutpautkannya dengan hobi mendengarkan musik.

Penafsiran barusan relatif juga tidak punya masalah dengan struktur bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh Vicky, dan—lagi-lagi—hanya soal istilah-istilah yang dipakainya, yang—lagi-lagi—awur-awuran. Lebih-lebih ketika Vicky menggunakan istilah-istilah itu dengan awalan ‘me-’, ‘memper-’ ataupun akhiran ‘-isasi’, hingga menciptakan istilah maupun frasa yang hampir tak pernah ada dalam penggunaan bahasa Indonesia pada umumnya.

Seandainya ada penafsiran lain dengan penggunaan bahasanya pun tak masalah. Kalaupun seorang penulis Kompasiana, menyamakan Vicky dengan Tony Blank—pasien rumah sakit jiwa—yang dianggap filsuf beraliran ‘saparatosan,’6 ya tidak juga mengundang satu gangguan terhadap kehidupan kita.. Sehingga, kalaupun muncul pula anggapan bahwa Vicky adalah salah satu praktisi posmoderen, setelah Tony Blank, saya pun tak menganggapnya sebagai sebuah pencapaian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, adanya tokoh Vicky atau Tony Blank tidak berarti juga ada kenaikan Upah Minimum dan keamanan pekerjaan bagi kaum buruh, ataupun tidak berarti juga satu bentuk perwujudan jiwa-jiwa yang bebas dari cengkeraman roh-roh jahanam, yang menggelantung di leher bak sakit gondok—yang ternyata menurut penelitian kesehatan adalah akibat tubuh manusia kurang mengkonsumsi garam beryodium. Bagi saya, contoh bahasa Vicky adalah contoh penggunaan, dan atau penerjemahan istilah yang ngawur, sesederhana itu saja.

Namun, apabila diperhatikan baik-baik, bahasa yang dipergunakan Vicky sebenarnya seperti campuran antara bahasa gaul—yang kerap disisipi dengan kata-kata ataupun ungkapan bahasa Inggris—dan bahasa jurnalistik intelektual politik masa kini. Terutama pada pilihan-pilihan kata-katanya yang sangat khas bahasa intelektual politik di media massa. Coba perhatikan, ‘Apresiasi,’ ‘Kontroversi,’ ‘Konspirasi,’  ‘Kemakmuran,’  ‘Harmonisasi,’  ‘Ego,’  ‘Kepentingan,’ ‘Mengkudeta,’  ‘Confident,’ ‘Mensiasati,’ ‘Kecerdasan,’ ‘Labil,’ dan ‘Ekonomi.’ Kecuali kata ‘Statutisasi’  yang tidak terlalu jelas dari mana asal usulnya, hampir semuanya adalah kata-kata serapan dari bahasa Inggris yang biasa dipergunakan untuk kepentingan penulisan analisa berita-berita politik. Akan tetapi persoalan kemudian muncul, ketika Vicky menggunakan semua kata milik para ‘analis politik’ itu dalam konteks yang sangat personal, sebagai sebuah pernyataan publik. Lebih-lebih, bahasa tubuhnya saat berucap kalimat-kalimat di muka mengesankan adanya kepercayaan diri yang sungguh besar. Sehingga ketika banyak orang mengetahui bahwa bahasanya adalah selubung dari kegelisahannya sebagai pelaku tindak kriminal berbagai kasus penipuan, runtuhlah semua citra di balik kata-kata tersebut.

Problemnya bukan pada apa makna di balik kata-kata Vicky, melainkan pada bagaimana seorang penipu ulung semacam Vicky bisa berpikir untuk mempergunakan kosa kata ‘politik’ sebagai sarana untuk menyelubungi perilaku menipu pasangannya, keluarga pasangannya, maupun pemirsa televisi? Apakah perbendaharaan kosa kata Vicky begitu banyak mengingat salah satu modus penipuannya adalah menjadi dua atau tiga orang yang berbeda identitas dalam satu waktu untuk merayu korban-korbannya?

Boleh jadi jawaban untuk pertanyaan pertama adalah jawaban berdasar analisis sosio-politik, sementara untuk pertanyaan yang kedua adalah jawaban berdasar analisis psikologi.

Tetapi sebelum analisis ini bergerak menyelidiki, muncul beberapa fenomena baru yang saling berhubungan. Pertama, pemberitaan yang cukup besar mengenai pembelaan Vicky. Mulai dari Vicky sendiri sampai dengan pembelaan terhadap Vicky oleh keluarganya. Kedua, pemberitaan tentang begitu populernya bahasa Vicky itu dipergunakan. Dan ketiga, perihal media dan kaum intelektual yang mencoba mengambil pelajaran dari kasus Vicky.

Tentang Kritik dan Pembelaan

Jarak sehari setelah keramaian di dunia virtual, sebuah blog yang beralamat http://vickyprasetyo.wordpress.com, yang diduga blog milik Vicky Prasetyo mengajukan pembelaan terhadap segala macam kritik yang dialamatkan kepadanya:

This is my ungkapan dengan sepenuh keteguhan jiwa dan keabsahan kejujuran rasa, meminta dengan hormat pihak manapun yang seteganya mendeskreditkan kebagusan reputasi diriku melalui alam maya.

Aku sangat tidak mengharapkan konspirasi berita sehingga nama baik ku disengajakan menjadi buruk citra. Kosakatasime dan bahasaisasi komunikasi jangan dipermasalahkan lah

Kemajemukan masyarakat sepertinya tiada lagi di negeri pancasilais tercinta ini. Sungguh memalukan keintelektualitasan seorang aku menjadi ajang hiburan semata serta pemupusan harapan dan materi of futures. But somehow my precious company was CV Angkasa Mua at Karang Asih was become evidence of my glory.

I am can talking francis, jermany, and other asian things.

Please share this is my good will statement and verification for all them guys to know. Supaya seluruh masyarakat Indonesia tahu lah, pembenaran sikap ku.

Basically disebabkan ucapan dan statement ku dimuat di 9soul.com tanpa izin kontrak tertulis. Afterall, this is my rightous, merupakan hak individualistik untuk berbicara, berbahasa.

Kamis, 12 September 2013, adalah hari pembelaan Vicky oleh anggota keluarganya, melalui suara Dabby Lestari, adik perempuannya. Dabby menyatakan bahwa:7

Malahan Daby menilai kalau tata bahasa eks tunangan Zaskia Gotik tersebut kurang baik karena kuliah di Amerika. ‘Mungkin karena pernah kuliah di Amerika, bahasa Inggrisnya enggak terlalu bagus, enggak kayak di London. Ya mungkin gitu,’ kata Daby.

Daby juga mengaku kalau bahasa yang diungkap Vicky itu berfilosofi tinggi. ‘Tapi itu bahasa filosof sebenarnya. Kalau kita enggak nyampai ilmunya susah, sangkanya itu buat ejek-ejekan saja,’ bela Daby.

Pembelaan yang dikemukakan oleh Vicky, lagi-lagi menuai banyak kritik dan ejekan dari para pembacanya. Lebih-lebih ketika pembaca makin lama makin mengetahui asal-usul Vicky berikut tindakan kriminalnya. Sehingga walaupun pembelaan itu ditulis dengan bahasa yang sedikit lebih mudah dipahami, dan lebih tegas gagasannya, terutama pada kalimat terakhir ‘hak individualistik untuk berbicara, berbahasa’, tetap saja ia semakin diejek oleh khalayak pembaca blognya. Namun semua kritik yang dialamatkan kepadanya, terutama pada blog di muka adalah kritik-kritik tentang penggunaan tatabahasa Inggris dan tatabahasa Indonesia yang ngawur. Tidak ada yang mencoba menelaah apa gagasan yang hendak diajukan ketika ia mengalami ‘bullying’ dari masyarakat dunia virtual.

Sementara pembelaan yang diajukan oleh adik Vicky Prasetyo juga menjadi bahan ejekan yang selanjutnya. Sepertinya apa yang dikemukakan oleh Dabby Lestari adalah sebuah penegasan bahwa Vicky Prasetyo bukan berasal dari keluarga yang berpendidikan. Pastinya, ungkapan-ungkapan Vicky adalah cermin dari pengetahuan yang tidak cukup dari upaya memperbincangkan sesuatu secara serius dan ilmiah.

Mungkin ada benarnya jika pembelaan itu ditempatkan pada kerangka yang lebih luas, pada kerangka pemikiran tentang pembelaan sebagaimana yang diungkapkan oleh Socrates yang dituduh sebagai pemuja setan, di dalam teks Apologia:

‘….Akulah seorang guru yang meminta bayaran; tak ada yang lebih benar dari itu. Walaupun demikian, jika seseorang mampu untuk mengajar, aku menghormatinya karena ia dibayar. Ada Gorgias dari Leontium, dan Prodicus dari Ceos, ataupun Hippias dari Elis. Mereka yang berkeliling dari kota ke kota, dan mampu mempengaruhi orang-orang muda untuk meninggalkan warganya sendiri, demi mereka yang mungkin tidak mengajarkan apa-apa, dan mereka mendatangi orang- orang muda itu, kepada siapa orang-orang muda itu tidak hanya membayar, tetapi sungguh berterima kasih jika diperbolehkan untuk membayar guru-guru itu.’8

Memang, saya yakin baik Vicky Prasetyo, maupun adik Vicky Prasetyo tidak membaca, apalagi berpikir seperti Socrates. Sama halnya dengan banyak intelektual di Indonesia, yang belum tentu membaca dengan teliti, dan kalau pun membaca sebatas setengah membaca, atau setengah mendengar apa yang disampaikan oleh teman dari temannya dosen yang kebetulan nongkrong di kafe, dan tiba-tiba berbicara Socrates setelah gagal menaklukkan hati seseorang, lalu berbicara tentang Socrates sebagai pembelaan atas kegagalannya.

Tapi perhatikan lagi kalimat-kalimat pembelaan Vicky:

This is my ungkapan dengan sepenuh keteguhan jiwa dan keabsahan kejujuran rasa, meminta dengan hormat pihak manapun yang seteganya mendeskreditkan kebagusan reputasi diriku melalui alam maya.

Jika saya tafsirkan secara bebas ungkapan Vicky di muka: ‘Inilah ungkapanku …… meminta dengan hormat pihak manapun yang begitu tega mendiskreditkan …..’ berarti ‘Inilah aku yang bersedia berhadapan dengan kalian yang begitu tega mendiskreditkan reputasi diriku.

Sekarang coba bandingkan dengan kalimat pertama Socrates: ‘Akulah seorang guru yang meminta bayaran, tidak ada yang lebih benar daripada itu’. Ini bisa berarti, ‘aku seorang yang memiliki kemampuan mengajar, dan oleh karena kemampuanku aku meminta dibayar, dan demikianlah adanya diriku.’

Apabila diperhatikan sekilas, baik Socrates maupun Vicky sama-sama berani menyatakan diri berhadapan dengan, katakanlah, ‘musuh-musuhnya’. Tetapi jika diperhatikan lebih cermat, ‘Aku’ menurut Vicky adalah bagian dari ‘keteguhan jiwa’ dan ‘keabsahan kejujuran rasa’ dan ‘reputasi’. Entah apa pun itu pekerjaan Vicky kita tidak menangkapnya. Sementara Socrates, secara langsung menegaskan ‘Akulah seorang guru’. ‘Aku’ adalah ‘apa yang aku kerjakan’. Sama sekali Socrates tidak ada soal dengan keteguhan jiwa dan kejujuran rasa, oleh karena ia berhadapan dengan musuh-musuhnya sebagai seorang guru. Sementara Vicky berhadapan dengan musuh-musuhnya sebagai yang tidak punya pekerjaan tapi punya reputasi baik. Apa sebenarnya gagasan di balik ‘Tidak punya pekerjaan tetapi punya reputasi baik’? Apakah mungkin itu berarti ‘tidak punya pekerjaan tetapi memiliki keteguhan jiwa dan kejujuran rasa?’ Bukankah kalimat pernyataan seperti itu berarti ‘tampaknya nol (0) tetapi sesungguhnya satu (1)?’ Jikalau demikian, bukankah itu berarti juga senada dengan kalimat ‘Muka boleh kaya setan, tetapi hati tetap Rinto (Harahap)?9‘ Atau jika dibawa ke dalam konteks politik, dalam bahasa para aktivis seperti misalnya, ‘Kita sih memang kecil, tetapi besar pengaruhnya?’ Apakah itu sama juga dengan pernyataan seorang pengacara, dan aktivis politik generasi tua, ‘Abang sih ngga ada masalah, tapi yang di belakang abang itu ribut mulu?’ Ataukah itu sejenis dengan pernyataan tokoh kriminal John Kei ketika diinterogasi pihak kepolisian tentang mengapa dirinya membunuh polisi, ‘Saya tidak punya masalah dengan polisi, tetapi saya kebetulan punya teman yang punya masalah dengan polisi’? Apakah itu senada juga dengan ‘penghiburan’ yang diberikan oleh Hariman Siregar kepada aktivis PRD, seperti ‘PRD itu memang kecil tetapi ngasih contohnya itu lho…’ Apa sebenarnya logika dibalik ‘tampaknya nol (0) tetapi sesungguhnya (1)?’ Bukankah teks Proklamasi yang disusun di bawah ancaman militer Jepang, disusun dengan kalimat, ‘Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya’, atau posisi politik di dalam pembukaan UUD 45, ‘Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa’, atau pernyataan Semaun di hadapan pengadilan Hindia Belanda, untuk menjawab pertanyaan tentang identitasnya, ‘Pekerjaan saya merencanakan revolusi?’

Boleh jadi pengamat politik yang harus menyatakan dan atau mendefinisikan siapa Vicky, dan pengamat politik juga yang bisa menilai dengan baik apa gagasan-gagasan politik kita secara obyektif, sementara kita sendiri seperti tak memiliki ruang untuk menyatakan apa pekerjaan kita dan apa gagasan politik kita. Dalam kasus Vicky, adiknyalah yang memberikan pembelaan secara obyektif, lepas dari benar atau salah, lepas dari soal apakah Dabby Lestari itu dungu luar biasa, ataupun kampungan, norak, sehingga pantas masuk neraka jahanam.***

Sekian, Semoga Bermanfaat…😀

Wassalamualaikum Wr.Wb

By reyvanologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s