“Soft State” dan “Powerhouse State”

Kalau mengikuti pendapat Francis Fukuyama, rangkaian peristiwa yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir termasuk rentetan peristiwa aktual terkini, mengindikasikan bahwa Indonesia sebagai negara telah gagal menjalankan perannya atau dapat disebut sebagai “negara lemah”.

Menurut Fukuyama, berlanjutnya konflik horizontal atau perang sipil, meningkatnya aksi-aksi terorisme, bertahannya tingkat kemiskinan, bencana kelaparan, penyebaran penyakit dan meningkatnya penderita HIV/AIDS di berbagai negara, bukanlah hal-hal yang berdiri sendiri, melainkan merupakan gejala politik di mana negara sebagai institusi terpenting dalam masyarakat gagal menjalankan peranannya (Fukuyama, Memperkuat Negara, 2005).

Apa yang digambarkan Fukuyama itu jelas terlihat di Indonesia selama ini. Misalnya, rangkaian konflik horizontal di berbagai daerah seperti di Ambon, Sampit, dan Poso, aksi-aksi terorisme oleh Dr.Azhari (almarhum) dan para pengikutnya, tingginya tingkat kemiskinan, penyebaran penyakit, meningkatnya angka penderita HIV/AIDS, dan yang terkini, bencana kelaparan di Yahukimo, Papua.

Kalau begitu, hal terpenting apa yang harus dilakukan ? Perkuat negara ! Itulah gagasan Fukuyama. Tentu dalam kasus Indonesia, kita bisa berbeda pendapat dengan Fukuyama. Namun setidaknya tawarannya tentang pentingnya upaya memperkuat peran negara itu relevan di tengah wacana lama tentang state (negara) versus society (masyarakat), dihadapkan dengan realitas global kini yang cenderung “mengurangi” peran negara.

Negara kuat bukan berarti negara otoriter. Negara kuat ditandai oleh kemampuannya menjamin bahwa hukum dan kebijakannya ditaati oleh masyarakat, tanpa harus menebarkan ancaman, paksaan, dan kecemasan yang berlebihan.

Elemen dasar pada negara yang kuat adalah otoritas yang efektif dan terlembaga. Jika terjadi penentangan terhadap otoritas ini, ia mampu mengatasinya. Dengan kekuatan semacam itulah, negara mampu menjaga keamanan, ketertiban, kebebasan, serta mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi. Jika negara tidak mampu menjaga otoritas semacam ini, ia disebut sebagai negara lemah.

Tentu saja, upaya menemukan format pemerintahan yang menjawab kebutuhan objektif masyarakat, tidak mudah. Di masa lalu Indonesia pernah dipimpin suatu pemerintahan yang representatif secara politik tetapi tidak mampu bekerja sama dan juga tidak didukung oleh kemampuan teknis sehingga gagal dalam menjalankan program-program pembangunannya.

Model Powerhouse State Orde Baru yang pemerintahannya kuat dan memiliki kompetensi teknis tinggi (didukung kaum profesional dan teknorat, ternyata mengabaikan demokrasi dan tidak memiliki kepekaan sosial. Kaum teknorat tanpa kepekaan itulah yang sering disebut “The New Barbarian”. Model Powerhouse State juga identik dengan otoriter.

Apabila yang muncul adalah pemerintahan yang representatif secara politik, memiliki cukup kemampuan profesional dan ketrampilan teknis, memiliki komitmen terhadap kesejahteraan rakyat, tetapi tidak cukup kuat untuk mengontrol dinamika perkembangan masyarakatnya, hal itu cenderung memperlihatkan karakter pemerintah yang lemah seperti model soft state.

Tentu sebagai bangsa, kita tidak ingin terperangkap pada model-model pemerintahan di masa lampau, baik model soft state pada masa Orde Lama atau model powerhouse state seperti pada masa Orde Baru.

Yang dibutuhkan adalah model pemerintah negara yang kuat dan demokratis, mampu meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi bagi seluruh rakyatnya, berwibawa dan tegas secara hukum dalam menjaga stabilitas dan tertib sosial, tetapi tanpa membuka peluang ke arah otoritarianisme.

By reyvanologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s