Nilai-nilai yang terkandung dalam Ibadah Qurban

Pada dasarnya ibadah qurban telah dilakukan ketika manusia pertama yaitu Nabi Adam hadir didunia. Pada waktu itu Allah memerintahkan kepada dua orang anak Nabi Adam untuk melakukan ritual qurban.

Namun pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh kedua anak Nabi Adam tersebut bukan merupakan landasan disyariatkannya penyembelihan hewan qurban dalam Islam, tapi landasannya adalah Sejarah qurban Nabi Ibrahim AS.

Melalui sebuah mimpi, Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya dari Hajar yaitu Nabi Ismail. Peristiwa ini merupakan gambaran cinta yang tulus dan ketaatan yang tinggi seorang hamba kepada Rabbnya sampai merelakan anaknya sendiri untuk dikorbankan demi menjalankan perintah Rabbnya, karena ia sendiri yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan Allah Maha Adil sehingga ia yakin bahwa Allah tidak akan mencelakakan dan mendhalimi hamba-Nya.

Kisah qurban ini diceritakan dalam Al-Quran Surat Ash-Shaaffaat ayat 102-109

Dengan adanya kisah ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Dalam Islam, setidaknya ibadah qurban mengandung empat dimensi yaitu dimensi tauhid, dimensi spiritual, dimensi sosial, dan dimensi moral.. Nilai ibadah qurban terkandung dalam empat dimensi tersebut.

1. Dimensi Tauhid

Ibadah Qurban mempunyai nilai ketauhidan yang sangat kental. Ritual ibadah Qurban merupakan momen untuk mengenang kembali perjuangan monoteistik yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Yaitu seorang nabi sholeh yang dikenal sebagai Bapak Tauhid.

Dalam konteks ketauhidan, ibadah qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dengan mengorbankan anak yang dicintainya mengajarkan kepada manusia sikap bertauhid yang sesungguhnya.

Nabi Ibrahim mampu membebaskan dirinya dari penghambaan kepada materi (dalam hal ini anak yang dicintainya) menuju penghambaan kepada Allah semata. Melalui Ibadah Qurban ini Nabi Ibrahim memperlihatkan keimanan, ketundukan dan ketaatannya hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim juga telah berhasil melepaskan diri dari kelengketannya kepada dunia, baik jasadnya, jiwanya, hatinya, maupun ruhnya, karena kelengketan kepada dunia akan menjadi penghalang seseorang untuk melakukan pengorbanan, ketaatan maupun kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah.

2. Dimensi Spiritual

Ibadah Qurban merupakan sarana pembuktian keimanan kita kepada Allah. Keimanan meliputi keikhlasan, yang berarti Ibadah qurban yang kita lakukan harus murni dilakukan hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya.

Ibadah qurban yang dilaksanakan bukan karena Allah, misalnya karena malu dilihat masyarakat bila tidak berqurban, atau karena ingin dilihat sebagai orang yang rajin melaksanakan ibadah, atau bahkan yang lebih parah berqurban yang dimaksudkan untuk sesembahan selain Allah, Ibadah seperti itu tidak akan pernah diterima disisi Allah, bahkan pelakunya akan mendapatkan dosa dari apa yang telah dilakukannya.

Jadi, dalam pelaksanaan ibadah qurban sangat dituntut adanya keikhlasan yang tumbuh dari dalam hati, sehingga dengan keikhlasan, ibadah qurban kita akan diterima disisi Allah. Dengan adanya ritual ibadah qurban, diharapkan dapat menumbuhkan dan mengasah keikhlasan, karena keikhlasan sebagaimana halnya keimanan, akan selalu naik dan turun, akan selalu menguat dan melemah.

3. Dimensi Sosial

Di samping nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah qurban, juga terdapat nilai-nilai sosial. Dan memang dalam setiap ibadah yang Allah syariatkan diantaranya terkandung nilai-nilai sosial seperti zakat, shadaqah, wakaf, shalat,haji,puasa,aqiqah dan sebagainya.

Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari sosial, sehingga banyak kita temukan baik dalam Al-Quran maupun hadits yang terkandung didalamnya nilai-nilai sosial kemanusiaan seperti berbuat baik kepada tetangga, menolong orang lain, berbakti kepada kedua orang tua, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit, memberi makan fakir miskin, dan sebagainya.

Apa yang telah disebutkan diatas adalah ajaran-ajaran islam yang semuanya mengandung nilai-nilai sosial, karena islam adalah agama dunia dan akhirat. Islam tidak hanya membicarakan masalah-masalah akhirat yang menjelaskan tentang tata cara ibadah yang mengatur hubungan kita dengan Allah, tapi islam  juga membicarakan bagaimana hubungan kita dengan manusia, yang semua itu kita sebut dengan hubungan sosial.

4. Dimensi Moral

Ibadah qurban juga mengandung pesan-pesan moral yang ditunjukkan dengan simbol-simbol yang ada dalam ritual ibadah qurban.

a.  Sejarah qurban Nabi Ibrahim merupakan sejarah yang penuh dengan nilai pengorbanan.  Bagaimana tidak, Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk mengorbankan anaknya, dibayang-bayangi hilangnya sebuah generasi yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.

Bagi kebanyakan masyarakat, ada pendapat yang menyatakan bahwa anak jauh lebih berharga daripada harta.  Ada istilah yang menyatakan lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan anak, apalagi jika anak itu merupakan anak yang dicintai dan selalu dinanti-nantikan kehadirannya sebagaimana halnya Ismail.

b.  Binatang adalah sesuatu yang dikorbankan dan disembelih dalam proses ritual ibadah qurban.

Binatang merupakan simbol keburukan yang ada pada diri manusia.  Sifat-sifat keburukan yang ada pada diri selalu diidentikan dengan sifat-sifat kebinatangan . Allah dalam beberapa ayat Al-Quran mengumpamakan sesuatu yang buruk yang ada pada diri manusia dengan binatang.

Maka, dengan adanya ibadah qurban menyiratkan bahwa sifat-sifat dan karakter kebinatangan yang tidak mempunyai aturan , yang menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsunya meskipun harus mendhalimi yang lain. harus dihapuskan dari dalam diri manusia.

c.  Ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih Ismail, lalu Allah menggantikan Ismail dengan seekor binatang, memberikan pelajaran bahwa kita harus menghargai nyawa manusia.

Allah telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa barang siapa yang menghilangkan nyawa seorang manusia, seolah-olah telah menghilangkan nyawa manusia seluruhnya, karena nyawa manusia penting artinya bagi hidup dan kehidupan.

Di sisi lain, kisah qurban Nabi Ibrahim menegaskan bahwa tuhannya Nabi Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah manusia, Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan dan membebaskan manusia dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan.

By reyvanologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s